Ternyata Sering Ganti Nomor HP Itu Berbahaya

    0

    Perbedaan penggunaan kuota data dan nomor utama memagn seringkali digunakan oleh pengguna smartphone khususnya di Indonesia. Hal ini memaksa kita sering sering ganti simcard ketika masa kuota data habis.

    Ternyata sering mengganti nomor hape ini berbahaya bagi kita loh. Pasalnya di era digital ini hampir semua transaksi perbankan, email, akun sosial dan beebrapa akses internet lain semua menggunakan nomor hape untuk verifikasi.

    Jangan sampai email Anda diretas, rekening dibobol, dan kartu kredit disalah gunakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

    Pasalnya, operator kerap menjual kembali nomor-nomor yang sudah tidak aktif kepada pengguna lain. Praktek daur ulang (recycle) nomor ponsel ini adalah hal yang lumrah dilakukan operator. Sehingga akan muncul risiko penyalahgunaan email, akun media sosial, atau akun perbankan, yang terhubung dengan nomor ponsel tersebut.

    Hal ini diamini oleh Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC Pratama Persadha. Ia mengatakan praktik ‘gonta-ganti’ nomor ponsel merupakan hal yang biasa namun membuat mereka yang melakukan praktek ini berisiko kehilangan aset pribadi digital mereka.

    Sebab, ketika nomor tersebut hangus dan kemudian digunakan oleh pengguna baru, potensi disalahgunakannya pun cukup besar.

    “Ketika nomor hangus lalu digunakan pengguna baru untuk registrasi atau verifikasi layanan yang juga digunakan oleh pengguna sebelumnya. Hal tersebut yang kemungkinan dimanfaatkan oleh pengguna baru untuk mengakuisisi aset digital,” kata Pratama saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (8/11).

    Oleh karena itu ada beberapa hal yang patut Anda waspadai ketika memutuskan untuk tidak lagi menggunakan nomor ponsel tertentu.

    1. Email bisa dibajak

    Saat ini penyedia layanan email populer seperti Gmail dan Yahoo selalu meminta pengguna untuk menyertakan nomor ponsel mereka saat membuat akun email.

    Nomor ponsel ini kerap digunakan penyedia email sebagai pelengkap proses autentikasi dua faktor jika pengguna lupa kata kunci mereka. Kode OTP (one time password) yang dikirim via SMS adalah salah satu bentuk autentikasi ini.

    “Setelah aset pribadi seperti email dapat diambil alih maka bisa diketahui history dari email yang masuk,” jelas Pratama.

    Hal ini sangat krusial. Dengan nomor telepon lawas itu, orang lain bisa membuat kata kunci baru untuk masuk ke email korban. Ia bisa meminta penyedia email untuk mengirimkan tautan perbaruan kata sandi lewat nomor ponsel yang ia pegang.

    2. Akun media sosial pindah tangan

    Akun media sosial juga bisa berpindah kendali. Caranya serupa dengan autentikasi dua faktor seperti membobol email.

    3. Akun finansial terancam dikuras

    Akun finansial seperti kartu kredit, dompet digital, akun marketplace, serta akun terkait keuangan lain pun diambang bahaya.

    Pasalnya akun-akun ini kerap menggunakan nomor telepon juga untuk melindungi akun penggunanya. Lagi-lagi menggunakan metoda autentikasi dua faktor.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here